Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Maut Memisahkan Cinta

Masih kuingat semua ceritamu padaku, dikala engkau duduk di samping dan katanya “walau apapun yang terjadi saya akan selalu sayang sama kau” kata-kata itu senantiasa ku dengar di indera pendengaran ku ini. Aku tahu seluruhnya itu rencana TUHAN untuk kita berdua.


Segala yang hidup akan kembali kepada-Nya. Tak ada yang mampu menebak kapan Malaikat Maut akan tiba menjemput kematian. Tak ada pula orang yang mampu mengulur waktu dari agenda yang telah ditentukan.


Elizabeth Kubler-Ross, psikiater sekaligus penggerak studi ihwal kematian, merumuskan beberapa tahapan yang terjadi ketika seseorang ditinggal mati pasangannya.


Tahapan ini terdiri dari penolakan dan shock, perundingan dengan diri sendiri, kemarahan, depresi, dan penerimaan.


Kubler-Ross memastikan, tak ada urutan niscaya dalam fase ini dan seseorang dapat mengulang kembali tahapan yang beliau pikir sudah sukses terselesaikan.


Sulit memang, tetapi fase ini terbilang wajar dalam kondisi berduka akhir kehilangan pasangan hidup. Persoalannya, berapa lama seseorang akan melewati fase ini dan kembali menjalani kehidupan mirip semula, tanpa air mata dan penyesalan.


Berikut beberapa hal yang bagus untuk dikerjakan ketika seluruhnya telah terjadi:


1. Menangis Itu Baik


Sebagian orang berasumsi, saat seseorang menangisi kerabatnya yang meninggal dunia, sang arwah pun akan turut merasa murung dan berat meninggalkan orang-orang terkasihnya. Namun dalam hal medis, menangis justru hal yang bagus untuk dijalankan ketika berduka.


Dr. Joyce Brothers menyebut air mata selaku “emotional first-aid” alias sumbangan pertama bagi luka emosional.


Menangis dinilai ampuh menyembuhkan luka psikis dan mampu menurunkan beban fikiran bila “diledakkan” dalam bentuk tangisan.


About Marriage mencatat, air mata mengandung leucine-enkephalin, zat penyembuh luka alamiah yang terdapat dalam otak.


Air mata juga mengandung hormon yang mendorong sekresi air mata, adalah prolactin. Wanita memiliki kandungan prolactin (zat penghasil air mata) lebih besar dibandingkan dengan pria, yang mengakibatkan wanita lebih gampang menangis.


2. Mencari Sandaran


Orang-orang yang diliputi duka cenderung melakukan hal-hal yang bagi kebanyakan orang dirasa konyol atau mendramatisir. Kondisi ini wajar, alasannya adalah kekalutan yang terjadi akibat akhir hayat pasangan menciptakan fatwa realistis perlahan menurun.


Jika Anda kehilangan pasangan hidup dan mulai merasakan hal-hal yang tidak wajar dalam perilaku psikologis Anda, jangan ragu untuk mencari orang lain selaku sandaran. Kehadiran keluarga dan sahabat akan baik bagi pemulihan keadaan mental Anda.


3. Luangkan Waktu untuk Berlibur


Apa pun yang terjadi, life must go on. Anda tak bisa terus-menerus hanyut dalam kesedihan dan perlahan berguru untuk kembali berdiri.


Luangkan simpulan pekan atau libur panjang untuk berlibur bersama keluarga atau sahabat. Lepaskan emosi yang selama ini menekan pikiran Anda dan biarkan otot-otot tampang Anda rileks. Manfaatkan momen-momen seperti ini untuk melaksanakan hal-hal baru yang selama ini belum pernah Anda coba.


4. Rencanakan Masa Depan


“Jika ada pria lain yang patut untuk mengembangkan hidup dengan aku, akan tetap ada ruang kosong di jiwa saya. Saya tahu apa yang pernah aku miliki dan apa yang hilang dari diri aku,” tutur Dr. Joyce Brothers dalam bukunya, Widowed.


Brothers menyertakan, walau ruang kosong itu akan terus ada akhir kehilangan yang begitu mendalam, namun beliau tak akan mengasihani dirinya sendiri, apalagi menghabiskan hidupnya seorang diri.


“Hidup harus jalan terus, dan aku siap untuk kembali bergabung dalam parade kehidupan,” ujar Brothers.


Hasilnya, mirip tercatat dalam data sensus Amerika Serikat. Rata-rata pria di AS akan menikah kembali dalam waktu 3 tahun, sedangkan perempuan 5 tahun setelah kematian pasangannya.


Namun yang pasti, menikahlah alasannya adalah cinta, bukan karena kesepian ditinggal cinta.


(rere/gur)


Posting Komentar untuk "Ketika Maut Memisahkan Cinta"